Wednesday, 19 February 2014

Usai tapi belum selesai

Retret mahasiswa gelombang satu sudah selesai, namun itu bukan berarti merek telah selesai. Justru mereka baru mengawali lagi hidup yang semoga dimaknai secara berbeda. Berbeda dalam arti semakin sadar untuo hidup selaras dengan kehendak Tuhan, mengikuti ajakan roh kebaikan dan menolak ajakan roh jahat yang membawa pada kehancuran. Berbeda dalam arti mereka lebih peka akan penyelenggaraan ilahi dan peka pada tujuan manusia diciptakan, yaitu bahwa manusia diciptakan untuk memuji dan memulaikan Tuhan, bahwa segala sesuatu di dunia ini ada semata sebagai sarana utk meraih tujuan itu. Maka kalau sakit lebih membuatku memuji Tuhan aku akan memilih sakit dsripada sehat, jika miskin lebih membuatku memuji dan dekat Tuhan maka aku lebih memilih miskin daripada kaya.

Gelombanh dua baru saja dimulai semoga mereka mampu berlatih dan mengola diri dalam retret ini.



Gambar gereja jago, ambarawa, dipandang dari kamar rumah retret.

Tuesday, 18 February 2014

Masalah anak dan anak masalah

Wawancara sehari kemarin menjadi hal yang menyeramkan jugabagi aku. Berdialog dari hati ke hati dengan seorang mahasiswa dengan segala yang dirasakannya dan segala problematikanya tidaklah mudah. Pertama aku harua membangun trust dengan merwka. Lalu masuk ke dalam perasaam mereka mencoba menggali hal hal yg menggangu kehidipan pribadinya, proses pendidikannya, relasi dengan keluarganya dan seterusnya.

Malamnya kami para pendamping berkumpul dan mensharingkan temuaj yang ada di kelompok.

Dan memang ada bbrapa masalah yg harus ditangani secara khusus, dengan mengundang orang tua datang ke rumah retret ini.

Kesimpulanku adalah anak itu merekam semua yg dilihatnya, yang didengarnya. Semuanya itu akhinya mempengaruhi hidupnya. Kadang mereka tidak mengakuinya bahkan memendam dlm hatinya, namun justru itu mengganjal perkembangan pribadinya.

Maka ketika kita ada masalah dengan anak atau anggota keluarga yh lain harus segera diselesaikan dan dilakukan rekonsiliasi.

Semoga keluarga keluarga kita selalu dilindungi dan dinaungi berkat dan kasih Ilahi, amin!

Monday, 17 February 2014

Wawancara

Retret hari ini akan banyak diisi dengan wawancara. Wawamcara antara pembimbing dan mahasiswa. Kita ingin menemukan gerak bati terlembut yang terjadi pada diri mahasiswa. Jika ada masalah hidup yang mengganjal oerkembangan pribadi diharapkan bisa dikenali, didalami, diakui, dan sejauh mungkin diselesaikan. Bahkan jika ini menyangkut orang tua misalnya, orang tua kita panggil datang ke rumah retret ini.

Ada padaku 7 mahasiswa, yang semoga semuanya baik baik saja. Mereka akan wawancara selama 1/2 atau 1 jam dengan aku. Sementara nunggu mrk bs melakukan bacaan rohani dan renungan. Dan suasananya tetap hening agar gerak batin terdengar.

Semoga semua berjalan lancar.

Saturday, 15 February 2014

Retret

Hari ini aku sdh ada di ambarawa. Aku menginap di rumah retret yang didirikan puluhan tahun lalu. Bangunan tua yang masih kokoh berdiri. Mulai besok sudah mulai membimbing retret sampai rabu siang.

Rumah retret ini dikelola oleh para biarawari ordo santo fransiskus, para pengikut santo fransiskus asisi. Mereka juga mengelola sebuah klinik kesehatan dan beberapa sekolahan di daerah ini.

Di sebelah rumahnretret ada Gereja tua yang besar, di situ ada menara lonceng dengan jam nya yang berdentang tiap setengah jam dan 1 jam. Ada bbrp pastor di sana dan salah seorang di antara nya adalah kawanku, teman kerja semeja dulu.

Area ini luas sekali, ada ratusan kamar, dengan lorong lorong panjang. Dan skr hny ada dua orang saja di sini, aku dan seorang teman di kamar sebelah. Kamar ini sangat sederhana. Hanya ada satu meja satu kursi, satu tempat tidur tua yg memakai kelambu, dan 2 bantal serra sebuah selimut tebal.

Hawanya cukup dingin sehingga akunputuskan tidur dgn memakai celana training panjang.

Suasana begitu sepi dan tenang. Cocok untuk retret, mundur dari keramaian dan mendekatkan diri pada Tuhan.

Thursday, 13 February 2014

Antara usul dan dianggap usil

Ada keraguan dalam diriku ketika aku merasa dianggap orang usil ketika memberikan usul dan masukan dalam rapat manajemen. Aku memang selalu memberikan suara, entah bertanya, menguji sebuah pernyataan, mendalami maksud sebuah presentasi, atau kadang memberi kritik yang bagi sebagian orang dianggap terlalu tajam.

Ketika sebuah ide dikritisi dengan ide lain, tentu itu suatu dinamika dialektis yang baik. Secara obyektif dan rasional itu baik baik saja, apalagi dalam konteks mencari yang terbaik. Sessoran sangat mungkin memiliki perspektif lain yang lebih luas atau mendalam. Dan ketika hal itu diungkapkan, bisa jadi menimbulkan polemik dan tidak semua orang suka akan hal itu dan justru merasa terintimidasi.

Sebuah pendapat bisa benar dan bisa jadi juga keliru. Maka adanya suatu kritik yg obyektif sebenarnya adalah suatu keuntungan karena menjadi peluang utk mendapatkan sebuah pendapat yang baik dan benar. Namun kadang orang tidak sabar dan terjebak pada kenyamanan berfikir yang menyederhanakan aspek aspek sebuah gagasan.

Itulah yang harus aku sadari.

Satu hal yang pasti dan harus aku sadari juga, adalah pada dasarnya orang itu tidak suka dikritik atau diberi usulan yang berbeda meski benar.

Namun aku tetap harus kritis, dan menemukan cara yg jitu utk menyampaikannya sehingga orang mau menerima.