Ada keraguan dalam diriku ketika aku merasa dianggap orang usil ketika memberikan usul dan masukan dalam rapat manajemen. Aku memang selalu memberikan suara, entah bertanya, menguji sebuah pernyataan, mendalami maksud sebuah presentasi, atau kadang memberi kritik yang bagi sebagian orang dianggap terlalu tajam.
Ketika sebuah ide dikritisi dengan ide lain, tentu itu suatu dinamika dialektis yang baik. Secara obyektif dan rasional itu baik baik saja, apalagi dalam konteks mencari yang terbaik. Sessoran sangat mungkin memiliki perspektif lain yang lebih luas atau mendalam. Dan ketika hal itu diungkapkan, bisa jadi menimbulkan polemik dan tidak semua orang suka akan hal itu dan justru merasa terintimidasi.
Sebuah pendapat bisa benar dan bisa jadi juga keliru. Maka adanya suatu kritik yg obyektif sebenarnya adalah suatu keuntungan karena menjadi peluang utk mendapatkan sebuah pendapat yang baik dan benar. Namun kadang orang tidak sabar dan terjebak pada kenyamanan berfikir yang menyederhanakan aspek aspek sebuah gagasan.
Itulah yang harus aku sadari.
Satu hal yang pasti dan harus aku sadari juga, adalah pada dasarnya orang itu tidak suka dikritik atau diberi usulan yang berbeda meski benar.
Namun aku tetap harus kritis, dan menemukan cara yg jitu utk menyampaikannya sehingga orang mau menerima.
No comments:
Post a Comment